Thursday, March 4, 2010

.. something to remember ..

“A couple of hundred years ago, Benjamin Franklin shared with the world the secret of his success. “Never leave that till tomorrow,” he said, “Which you can do today.” This is the man who discovered electricity. You’d think more of us would listen to what he had to say. I don’t know why we put things off, but if I had to guess, I’d say it has a lot to do with fear. Fear of failure. Fear of pain. Fear of rejection. Sometimes the fear is just of making a decision, because what if you’re wrong? What if you make a mistake you can’t undo? Whatever it is we’re afraid of, one thing holds true: that by the time the pain of not doing the thing gets worse than the fear of doing it, it can feel like we’re carrying around a giant tumor. And you thought I was speaking metaphorically.”

Wednesday, March 3, 2010

.. twinge ..

“It’s so hard to forget pain, but it’s even harder to remember sweetness. We have no scar to show for happiness. We learn so little from peace.”

.. question ..

Kat: How can anyone be afraid of love?

Acheron: How can they not? When you love someone…truly love them, friend or lover, you lay your heart open to them. You give them a part of yourself that you give to no one else, and you let them inside a part of you that only they can hurt-you literally hand them the razor with a map of where to cut deepest and most painfully on your heart and soul. And when they do strike, it’s crippling-like having your heart carved out. It leaves you naked and exposed, wondering what you did to make them want to hurt you so badly when all you did was love them. What is so wrong with you that no one can keep faith with you? That no one can love you? To have it happen once is bad enough… but to have it repeated? Who in their right mind would not be terrified of that?”

-Devil May Cry: From Sherrilyn Kenyon’s Dark - Hunter series-

Wednesday, January 6, 2010

.. livid ..

MARAH sering kali mengakibatkan suasana yang tidak enak. Salah satu sifat emosi ini tak perlu dihindari, tetapi Anda harus berusaha untuk meredamnya.

Siapa pun pasti pernah marah. Setiap orang memiliki cara berbeda untuk melampiaskan satu bentuk emosi ini. Ada yang dipendam, ada pula yang diumbar tanpa kontrol. Yang pasti, semuanya sama-sama meninggalkan jejaknya pada tubuh kita. Disadari atau tidak,pada akhirnya akan menimbulkan suasana yang kurang menyenangkan (tidak harmonis) di sekelilingnya.

Ahli kejiwaan dari Rumah Sakit Sahid, Jakarta, Dr Sylvia Detri Elvira SpKJ (K) menjelaskan bahwa kemarahan merupakan salah satu dampak yang terjadi akibat mengalami berbagai macam fenomena, antara lain kekerasan, kebencian, peperangan, dan agresivitas. "Kemarahan juga sangat berhubungan dengan masa lalu seseorang atau adanya trauma pada masa lalu,"tandasnya.

Sylvia menuturkan, kemarahan merupakan salah satu bentuk perasaan yang dialami setiap orang, dimulai sejak bayi sampai pada orang yang sudah lanjut usia. "Perasaan ini merupakan emosi dasar yang dialami semua orang,tak terbatasi oleh budaya,"tutur dokter yang juga praktik di RSCM ini. Kemarahan juga bisa dikatakan sebagai suatu perilaku, sebagai salah satu bentuk emosi, juga sebagai pengalaman. Sylvia menuturkan, kemarahan merupakan suatu perasaan yang menggebu atau emosi ketidaknyamanan, yang dipicu oleh luka hati yang nyata atau khayal, atau oleh suatu penghinaan.

Kemarahan biasanya dialami oleh suatu kondisi afektif yang dihayati sebagai suatu motivasi untuk melakukan sesuatu yang memperingatkan, mengintimidasi, atau merupakan suatu serangan terhadap ancaman atau tantangan. Dan juga merupakan bagian dorongan agresif, yang dapat diekspresikan sebagai letupan emosi, yang kemudian dapat berkurang kadarnya, pascapengekspresiannya tersebut.

"Kemarahan dapat pula diekspresikan secara tidak langsung. Di mana perbedaan yang cukup besar terlihat pada budaya Barat dan Timur meskipun ada pula pengecualian, di mana budaya Barat lebih bisa mengekspresikan rasa kemarahan," jelasnya.

Selain itu, kemarahan dapat membuat seseorang menjadi waspada terhadap ketidakadilan, frustrasi, tekanan dari lingkungan, dan dapat mengarahkan perilaku untuk mengoreksi, atau mengeliminasi situasi yang mengganggu rasa sejahtera. Juga dapat berfungsi sebagai adaptasi dan komunikasi dalam membawa atau memfasilitasi pemenuhan kebutuhan
seseorang.

"Bila seseorang tidak mengungkapkan kemarahannya, maka yang terjadi adalah sikap apatis, yaitu salah satu bentuk ekspresi kemarahan," tutur dokter lulusan Universitas Indonesia ini.

Kekecewaan dan atau kemarahan adalah hal yang tidak terhindarkan dalam sebuah hubungan. Kemarahan bisa tertuju kepada pihak lain atau kepada diri sendiri. Dari adanya rasa kemarahan ini, maka ada baiknya agar kemarahan itu sebaiknya dikelola.

Psikiater dari Sanatorium Dharmawangsa Mental Health Clinic, Dr Heriani SpKJ (K), menuturkan, amarah merupakan ekspresi efektif normal manusia di samping gembira, sedih, kesal, kecewa, cemas atau takut. "Sumber kemarahan adalah pikiran atau persepsi akan suatu situasi," ujar psikiater dari Departemen Psikiatri FKUI ini.

Dalam kehidupan perkawinan, rasa kemarahan itu bisa saja muncul karena rasa kekecewaan, ketidakpuasan, dan lain-lainnya. Perselingkuhan misalnya, rasa ketidaksetiaan yang dilakukan salah satu pasangan, maka akan memancing rasa marah dari pasangan lain. "Meredam kemarahan bisa dilakukan dengan beberapa langkah di antaranya dengan relaksasi," paparnya.

Dijelaskan Heriani, teknik relaksasi bisa dilakukan selama 10-15 menit dengan melakukan pengaturan napas yang dilakukan secara perlahan atau dengan membayangkan suasana yang menenteramkan. "Bisa juga dengan mengganti pikiran negatif menjadi positif secara otomatis, misal? mungkin dia terlambat pulang karena macet dan HP-nya low batt'," ucapnya.

Atau bisa juga mengalihkan rasa kemarahan dengan menyibukkan diri sendiri untuk melakukan kegiatan lain. Walaupun kemarahan ini bersifat manusiawi, jika amarah yang terjadi membawa dampak negatif terutama dalam hubungan rumah tangga, maka yang seharusnya dilakukan adalah dengan menyikapi kemarahan dan jangan pernah untuk menghindari rasa kemarahan.

Monday, June 29, 2009

.. keeper ..

It's best to wait for the one you want than settle for the one available.
Best to wait for the one you love than one who's around.
Best to wait for the right one because life's too short to be wasted on just someone.

"An African proverb states, "Before you get married, keep both eyes open, and after you marry, close one eye."
Before you get involved and make a commitment to someone, don't let lust, desperation, immaturity, ignorance, pressure from others or a low self-esteem make you blind to warning signs.

Keep your eyes open, and don't fool yourself that you can change someone or that what you see as faults aren't really that important. Once you decide to commit to someone, over time, their flaws, vulnerabilities, pet peeves, and differences will become more obvious.

If you love your mate and want the relationship to grow and evolve, you've got to learn how to close one eye and not let every little thing bother you.

You and your mate have many different expectations, emotional needs, values, dreams, weaknesses, and strengths. You are two unique individual children of God who have decided to share a life together.

Neither one of you are perfect, but are you perfect for each other? Do you bring out the best in each other? Do you compliment and compromise with each other?

What do you bring to the relationship? Do you bring past relationships, past hurt, past mistrust, past pain? You can't take someone to the altar to alter them.
You can't make someone love you or make someone stay. If you develop self-esteem, spiritual discernment, and "a life" you won't find yourself making someone else responsible for your happiness or responsible for your pain.

What keeps a relationship strong?
* communication
* intimacy
* a sense of humor
* sharing household tasks
* some getaway time without business or children
* daily exchanges (a meal, shared activity, a hug, a call, a touch, a
note)
* sharing common goals and interests
* giving each other space to grow without feeling insecure
* giving each other a sense of belonging and assurances of commitment (and stick to it!)

If these qualities are missing, the relationship will erode as resentment, withdrawal, abuse, neglect, dishonesty and pain replace the passion.
"As long as we have memories, yesterday remains. As long as we have hope, tomorrow awaits. As long as we have friendship, today is beautiful."

Love is when you take away the feeling, the passion, and the romance in a relationship and find out that you still care for that person.